Petunjuk Teknis PM-AAS 2026Pertanian Modern Model AAS (Advanced Agriculture System)
Daftar Isi
๐ŸŒฟ Petunjuk Teknis โ€ข Pertanian Modern

Pertanian Modern
Model AAS 2026

Dokumen ini memuat pedoman pelaksanaan PM-AAS: sistem pertanian intensif berbasis teknologi tinggi yang menekankan efisiensi, mekanisasi, presisi, tanam benih langsung, pengelolaan air, PHT, panen, serta penerapan spesifik lokasi.

4:1 / 6:1model larikan PM-AAS
ยฑ80kg benih per hektar
20 hakapasitas kerja drone per hari
BAB 1

Pendahuluan

Produksi padi Indonesia menunjukkan tren positif di tahun 2025, dengan proyeksi mencapai sekitar 60,34 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dan produksi beras sekitar 34,77-35,6 juta ton. Peningkatan ini didorong oleh bertambahnya luas panen serta peningkatan produktivitas. Indonesia sendiri bercita-cita menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2030.

Kondisi tenaga kerja petani padi di Indonesia menghadapi tantangan: mayoritas petani berusia menua, tingkat pendidikan masih rendah, produktivitas nasional tertinggal dibanding negara tetangga, usaha tani didominasi skala kecil, serta sangat bergantung pada tenaga kerja keluarga maupun luar keluarga.

Pertanian modern merupakan sistem pertanian maju yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi seperti IoT, drone, GPS, otomatisasi, serta inovasi untuk mengoptimalkan produksi, meningkatkan efisiensi, kualitas, dan keberlanjutan lingkungan maupun ekonomi petani.

Juknis ini disusun berdasarkan hasil kajian selama tiga musim di Kebun Percobaan BRMP Padi di Muara Bogor dan Sukamandi-Jawa Barat, Sambas-Kalimantan Barat, serta Soppeng-Sulawesi Selatan, dan ditelaah berdasarkan Rice Management Guide of Arkansas.

BAB 2

Pengertian Pertanian Modern PM-AAS

Sistem pertanian modern model Advanced Agricultural System (AAS), disingkat PM-AAS, merupakan sistem pertanian intensif berbasis teknologi tinggi yang menekankan efisiensi, mekanisasi, dan presisi.

Model ini mengadopsi praktik pertanian yang berkembang di Arkansas, khususnya Delta Arkansas, kawasan subur di Amerika Serikat. Petani di wilayah tersebut menerapkan sistem tanam benih langsung dengan jarak tanam rapat untuk mengoptimalkan penggunaan lahan.

Dalam praktiknya, petani di Arkansas dapat mengelola lahan padi skala luas dengan rata-rata 400 ha, didukung mekanisasi penuh mulai dari pengolahan tanah hingga panen. Sistem tanam benih langsung menghilangkan proses persemaian sehingga menghemat biaya dan tenaga kerja.

BAB 3

Prinsip Utama Pertanian Modern PM-AAS

๐ŸŒฑ

Tanam Rapat dalam Baris

Penerapan sistem tanam dengan jarak rapat dan teratur dalam baris untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan serta memaksimalkan hasil produksi per hektar.

๐Ÿ’ง

Efisiensi Sumber Daya

Pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan sumber daya, khususnya air irigasi, agar distribusi lebih optimal, hemat, dan produktif.

๐Ÿšœ

Mekanisasi Pertanian

Penggunaan traktor, land leveler, rotavator, drone, drum seeder, dan combine harvester sejak pengolahan tanah hingga panen.

๐Ÿข

Berbasis Korporasi

Pengelolaan lahan berskala besar melalui konsolidasi, teknologi modern, serta manajemen hulu-hilir untuk memperkuat skala ekonomi dan daya tawar petani.

๐Ÿ“ˆ

Intensifikasi Produksi

Peningkatan hasil per hektar melalui tanam benih langsung, jarak rapat, dan pengelolaan intensif terhadap hara, irigasi, serta gulma.

๐Ÿ“

Spesifik Lokasi

Penerapan sistem disesuaikan dengan karakter lahan, terutama lahan datar, luas, dan memiliki pengaturan air yang mudah.

BAB 4

Teknis Pelaksanaan PM-AAS

Disajikan dalam format kartu kerja untuk memudahkan operator lapangan membaca tahapan secara cepat tanpa tenggelam dalam paragraf panjang.

01

Persiapan Lahan

  1. Lahan sawah digenangi air 2-5 cm selama 2-3 hari sebelum pembajakan; pada fase ini direkomendasikan herbisida kontak untuk mengendalikan gulma awal.
  2. Pengolahan tanah pertama dilakukan menggunakan Traktor Roda (TR) dan perbaikan pematang untuk mencegah rembesan air maupun pupuk.
  3. Aplikasi pupuk kandang atau kompos minimal 500-1.000 kg/ha untuk menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah.
  4. Penambahan dolomit atau kaptan dilakukan bila pH tanah rendah, dengan dosis minimal 1 ton/ha agar pH mendekati netral (6-7).
  5. Lahan kembali digenangi 2-3 hari dengan kedalaman air 2-3 cm sebagai persiapan pengolahan tanah kedua.
  6. Pengolahan tanah kedua memakai TR-4 atau TR-2 dengan implemen rotary untuk mencacah sisa tanaman, gulma, dan melumpurkan tanah; dilakukan satu minggu setelah pengolahan tanah pertama.
  7. Aplikasi herbisida pra-tumbuh untuk gulma berdaun lebar maupun sempit dilakukan minimal 5 hari sebelum Tabela.
  8. Tanah dibiarkan lembab dan tidak tergenang 1-2 hari sebelum tanam. Buat parit di sekeliling lahan untuk drainase sekaligus pengendalian keong mas.
02

Sistem Tanam Benih Langsung (Tabela)

ยฑ80kg benih/ha
5hari awal tanpa hujan
4:1 / 6:1pola larikan
  1. Kebutuhan benih PM-AAS sekitar ±80 kg/ha.
  2. Sebelum menetapkan tanggal tanam, cek prakiraan cuaca lima hari ke depan. Tabela memerlukan kondisi tanpa hujan pada lima hari pertama agar benih tidak hanyut dan lahan tidak tergenang.
  3. Gunakan benih unggul dengan daya kecambah tinggi (>80%), kemurnian varietas terjaga, pertumbuhan seragam, serta bebas kotoran dan penyakit.
  4. Benih direndam 24 jam, lalu diperam 24 jam hingga muncul titik tumbuh putih namun belum membentuk akar sempurna (melentis).
  5. Seed treatment menggunakan fungisida atau bakterisida dilakukan sesuai riwayat kondisi lahan, terutama bila ada penyakit endemis.
  6. Benih melentis ditanam memakai Drum Seeder tipe larikan 4:1 atau 6:1 dengan pola tanam padat tanpa jarak dalam baris dan lorong kosong setiap 4 atau 6 larikan.
  7. Saat tanam, lahan harus macak-macak atau kering, bebas genangan, dan bebas gulma.
03

Model Tanam Rapat dan Larikan

Penciri utama PM-AAS adalah sistem tanam benih langsung dengan pola rapat dalam baris tanpa jarak antar rumpun. Dua model optimum adalah PM-AAS 4:1 dan PM-AAS 6:1 dengan lorong kosong atau legowo selebar 40 cm.

04

Varietas Unggul Spesifik

  1. Pilih varietas dengan malai lebat, batang kokoh, perakaran kuat, dan/atau tahan rebah.
  2. Varietas diutamakan tahan hawar daun bakteri (kresek) dan blas karena pola tanam rapat dapat meningkatkan kelembaban.
  3. Varietas sebaiknya memiliki ketahanan terhadap anaerob germination, yaitu kemampuan benih tetap berkecambah dalam kondisi tergenang.
  4. Rekomendasi hasil kajian meliputi Cakrabuana, Inpari 47 WBC, varietas hibrida, serta varietas lain yang memenuhi kriteria tersebut dan tetap perlu dikaji ulang sesuai lokasi.
05

Pemeliharaan

a. Pemupukan

  1. Dosis mengikuti rekomendasi optimum setempat, hasil PUT, LKP, atau pembacaan Soil Kit dengan tambahan ±25% dari dosis semula, atau tambahan pupuk mutiara sesuai kebutuhan.
  2. Pemupukan I (dasar/vegetatif) dilakukan umur 21-30 HSS untuk merangsang anakan dan pertumbuhan akar.
  3. Pemupukan II (generatif) dilakukan umur 40-45 HSS untuk memaksimalkan pembentukan anakan dan calon malai.
  4. Pupuk P dan K diberikan pada awal pertumbuhan atau bersamaan dengan pemupukan pertama untuk memperkuat akar dan batang.
  5. Manajemen nitrogen: 2/3 dosis pada fase tanaman berdaun 3-4 helai dan 1/3 dosis pada fase bunting.
  6. Pupuk silika diaplikasikan bertahap pada 25, 35, 45, dan 55 HSS, atau disesuaikan dengan perkembangan tanaman di lapangan.
  7. Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) direkomendasikan untuk meningkatkan daya tahan terhadap HPT serta mendukung fase vegetatif dan generatif.

b. Pengelolaan Air

  • PM-AAS menerapkan kondisi kering pada fase awal, kemudian penggenangan setelah tanaman muncul 3-4 helai daun dengan kedalaman 1-3 cm.
  • Pada lahan sawah, kondisi macak-macak menjadi batas maksimum air yang dianjurkan.
  • Pengelolaan air berfungsi mengurangi risiko kekeringan maupun genangan berlebih, terutama saat curah hujan tinggi.
  • Saluran pemasukan dan pembuangan air dibuat dengan memperhatikan elevasi lahan agar distribusi air optimal.
  • Pengairan berselang membantu menghemat air, memperbaiki pertumbuhan akar, mencegah keracunan besi, mengurangi gas Hโ‚‚S, mengaktifkan mikroorganisme tanah, dan menekan risiko rebah.

c. Penanggulangan Gulma

  1. Pengelolaan gulma menjadi kunci utama keberhasilan PM-AAS. Rekomendasi: minimal 1 kali sebelum Tabela, 2 kali setelah Tabela, dan 1 kali manual.
  2. Biochar direkomendasikan untuk menetralisir residu herbisida.
  3. Herbisida pra-tanam menggunakan herbisida sistemik pada H-5 tanam benih langsung atau paling lambat H-3.
  4. Herbisida purna tanam dilakukan minimal dua kali setelah Tabela pada umur 2 MST dan 4 MST.
  5. Gunakan herbisida sistemik untuk daun lebar dan sempit. Untuk gulma daun sempit, wajib memakai herbisida selektif agar tidak membunuh tanaman padi.
  6. Bahan aktif yang direkomendasikan antara lain Fenoksaprop-p-etil 69 g/l dan Etoksisulfuron 20 g/l.
  7. Pengendalian manual efektif pada fase 2-3 MST; gulma setelah 4 MST sulit dikendalikan secara manual.
  8. Aplikasi herbisida intensif perlu diimbangi biochar atau pupuk organik untuk menjaga ekosistem tanah.
06

Pengelolaan Hama dan Penyakit (PHT)

HPT utama pada PM-AAS adalah hawar daun bakteri (HDB) atau kresek dan blas. Hama lain yang perlu diwaspadai pada sawah irigasi meliputi tikus, wereng batang cokelat, penggerek batang, tungro, keong mas, dan burung.

๐Ÿ€ a. Tikus Sawah

Di daerah endemik tikus, Trap Barrier System (TBS) dan tanaman perangkap dilakukan tiga minggu lebih awal sebagai monitoring sekaligus pengendalian. TBS 25 ร— 25 m dapat melindungi area sekitar 8-10 ha.

  1. Tanam serempak pada area hamparan.
  2. Sanitasi habitat.
  3. Gropyok massal.
  4. Fumigasi.
  5. LTBS/TBS sesuai stadia.
  6. Rodentisida sesuai kebutuhan dan kaidah pengendalian.

๐Ÿฆ— b. Wereng Batang Cokelat (WBC)

  1. Tanam serempak.
  2. Gunakan varietas tahan, antara lain Inpari 13, Inpari 31, Inpari 33, Inpari 47 WBC, dan Inpari VTE 13.
  3. Pengendalian dilakukan bila pada stadia vegetatif terdapat 3-5 WBC/rumpun atau pada stadia generatif ditemukan 5-7 WBC/rumpun.
  4. Pantau light trap dan tuntaskan pengendalian pada generasi ke-1. Pengendalian saat generasi ke-3 tidak akan berhasil.
  5. Gunakan bahan aktif Triflumezopirym, Pymetrozine, Dinotefuran, atau bahan aktif lain yang masih efektif; hindari penggunaan satu jenis insektisida terus menerus.
  6. Jika semprotan kurang manjur, pengendalian dapat ditambah dengan insektisida sistemik melalui akar.

๐ŸŒพ c. Penggerek Batang Padi

  1. Tanam serempak dan atur waktu tanam.
  2. Pengendalian mekanik dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di pertanaman.
  3. Pengendalian hayati dapat memakai parasitoid telur Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha sejak awal pertanaman.
  4. Pengendalian kimia dilakukan 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman.
  5. Pada stadia vegetatif dapat digunakan karbofuron 20 kg/ha; pada stadia generatif gunakan insektisida sistemik berbahan aktif spinetoram, klorantraniliprol, dimehipo, atau bahan aktif lain yang masih efektif.
  6. Jika menggunakan insektisida kontak, aplikasi dilakukan sore hingga malam saat hama keluar dari batang.

๐ŸŒ d. Keong Mas

  1. Pra-tanam: ambil dan musnahkan keong mas secara mekanis.
  2. Stadia vegetatif: keringkan sawah atau hindari genangan, ambil keong dan telur siput, lalu musnahkan.
  3. Gunakan pestisida nabati seperti saponin dan rerak 20-50 kg/ha atau pestisida kimia yang masih efektif.
  4. Stadia generatif dan setelah panen: ambil dan musnahkan keong mas; itik dapat digembalakan setelah padi dipanen.

๐Ÿงฌ e. Tungro

  1. Pra-tanam: bersihkan sumber inokulum seperti singgang, bibit dari ceceran gabah, rumput teki, dan eceng sebelum persemaian.
  2. Tanam varietas tahan tungro, seperti Inpari 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang.
  3. Pada umur 3 minggu, bila dari petakan ±100 mยฒ ditemukan 2 rumpun bergejala tungro, segera aplikasikan insektisida fungsi ganda.
  4. Gunakan bahan aktif seperti Thiametoxam, Triflumezopirym, Pymetrozine, Dinotefuran, atau bahan aktif lain untuk menghambat pemerolehan dan penularan virus.
  5. Hilangkan sumber inokulum tungro sedini mungkin dengan cara dibenamkan.

๐Ÿงซ f. Hawar Daun Bakteri (HDB)

  1. Gunakan varietas tahan HDB.
  2. Tanam benih sehat. Perendaman benih pada air hangat 50 ยฐC selama 30 menit atau seed treatment bakterisida dapat mengurangi patogen permukaan benih.
  3. Terapkan pengairan berselang (intermittent irrigation).
  4. Pupuk N dan K harus berimbang. Nitrogen berlebih meningkatkan kerentanan, sedangkan kalium membantu ketahanan tanaman.
  5. Sanitasi lingkungan dengan menjaga kebersihan gulma, karena bakteri Xoo dapat bertahan pada inang alternatif.
  6. Pengendalian hayati dapat memakai Paenibacillus polymyxa dan Pseudomonas fluorescens.
  7. Pengendalian kimia dapat memakai bahan aktif seperti difenokonazol, profikonazol, asibenzolar-s-metil, benomil, tembaga tiodiazol, tembaga hidroksida, asam kloro bromo isosianurik, propineb, atau fluopikolid.

๐Ÿƒ g. Blas

  1. Perendaman benih dalam larutan fungisida selama 24 jam; larutan diaduk merata setiap 6 jam. Perbandingan benih dan air adalah 1:2.
  2. Fungisida sistemik seperti trisiklazole direkomendasikan dengan dosis formulasi 3-5 g/kg benih.
  3. Gunakan varietas tahan seperti Inpari 21, Inpari 22, Inpari 26, Inpari 27, Inpari 50 Marem, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, dan Inpago 8.
  4. VUB Inpari 48 Blas tidak direkomendasikan karena teruji mengalami rebah sangat parah.
  5. Pemupukan nitrogen dan kalium harus berimbang agar tanaman lebih tahan terhadap blas.
  6. Penyemprotan fungisida dapat memakai Benomyl 50 WP, Mancozeb 80%, Carbendazim 50%, Isoprotiolan 40%, atau Trisikazole 20%. Aplikasi sebaiknya dua kali: fase anakan maksimum dan awal berbunga.

๐Ÿฆ h. Burung

  1. Gunakan seed treatment pada benih sebelum Tabela. Pestisida pengusir burung pipit umumnya bekerja melalui aroma menyengat; contoh bahan adalah Thiram dan surfaktan.
  2. Pasang net burung dengan ukuran rekomendasi 0,15 inci.
  3. Pasang alat pengusir burung yang dapat bergerak otomatis bila memungkinkan.
  4. Teknologi suara dan ultrasonik dapat mengeluarkan suara keras atau frekuensi 1-2,5 kHz yang tidak disukai burung.
Metode pengendalian tikus sesuai stadia tanaman pada sistem tanam benih langsung
MetodeBeraOlah TanahTabur TunasBuntingMatang
Tanam serempak++
Sanitasi habitat+++++
Gropyok massal++++
Fumigasi+++++
LTBS++++++
TBS+++
Rodentisida+

Keterangan: + = dilakukan; ++ = difokuskan.

๐Ÿš Rekomendasi Drone Pestisida / Spreading

Drone menjadi solusi modern untuk pertanian skala luas. Sistem spreading atau seed ejection dapat menebar input secara merata, menyemprot berdasarkan peta lahan, dan bekerja hingga 20 ha per hari. Tipe yang telah diimplementasikan: DJI Agras T20p.

07

Pengelolaan Panen

  1. Gunakan alat mesin panen.
  2. Kadar air gabah optimal 18-22%. Jika terlalu basah, gabah rentan rusak; jika terlalu kering, bulir mudah pecah dan kehilangan hasil meningkat.
  3. Panen dilakukan saat 80-85% bulir sudah menguning merata. Pemanenan pada umur >85% menguning rawan rebah.
  4. Lakukan pengeringan lahan maksimal H-5.
  5. Kecepatan combine harvester disarankan 2,5-4,5 mph dan disesuaikan dengan kepadatan tanaman.
  6. Tinggi pemotongan 10-15 cm agar jerami tidak terlalu banyak masuk ke mesin dan proses perontokan tetap efisien.
08

Pencegahan Rebah

  1. Gunakan VUB berbatang kokoh, berakar kuat, dan tahan HDB.
  2. Aplikasikan pupuk cair silika berkala pada 25, 35, 45, dan 55 HSS.
  3. Awal tanam 0-10 HSS: sawah dikondisikan macak-macak.
  4. Pengeringan awal: tanah dibiarkan mengering hingga retak selama sekitar 5-6 hari.
  5. Penggenangan kembali: sawah diairi setinggi 5 cm.
  6. Siklus kering-retak dan genangan 5 cm diulangi bergantian.
  7. Fase pembungaan hingga pengisian gabah harus terus digenangi.
  8. Sepuluh hari sebelum panen, air dikeringkan total.
  9. Panen dilakukan saat masak fisiologis, yaitu bulir pada malai menguning 85-90%.
BAB 5

Hasil-Hasil Kajian PM-AAS

Hasil penelitian selama tiga musim di Kebun Percobaan (KP) Muara menunjukkan peningkatan produktivitas padi yang signifikan, dari rata-rata 3,25-5,48 ton/ha menjadi 5,1-7,5 ton/ha.

Kajian serupa dilaksanakan di Kalimantan Barat, Jawa Barat, Lampung, dan Sulawesi Selatan (Soppeng). Di Kabupaten Soppeng, penerapan PM-AAS menghasilkan produktivitas 9,4-10,5 ton/ha pada akhir tahun 2025.

Capaian panen bersama di Kabupaten Soppeng pada awal 2026 menunjukkan produktivitas ubinan mencapai 10,4 ton/ha. Capaian ini menjadi bukti bahwa modernisasi pertanian dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

5,1-7,5ton/ha setelah PM-AAS di KP Muara
9,4-10,5ton/ha capaian Soppeng
10,4ton/ha hasil ubinan panen bersama
โ†‘